Sabtu, 07 Juli 2012

Tahukah kamu

Tahukah kamu ketika jari jemarimu menggenggam kekuasaan?
Itu adalah amanah dari tuhanmu, Allah
Tahukah kamu ketika hatimu menyimpan kebenaran?
Itu adalah amanah dari tuhanmu, Allah
Tahukah kamu ketika mulutmu mengunyah daging dan anggur dengan rakus?
Itu adalah amanah dari tuhanmu, Allah

Tahukah kamu ketika matamu melihat keindahan
Hatimu merasakan kedamaian
Tubuhmu terbungkus pakaian kebesaran
Hidungmu mencium kesejukan
Lidahmu merasakan kenikmatan

Itu adalah amanah dari tuhanmu, Allah

Bentangkan sajadah bersujudlah
Nikmati dan terus nikmati malam yang lembut kala sunyi
Dengarkan alunan nada suara tangis yang menderu
Rasakan dengan lidahmu
Rasakan dengan hatimu
Rasakan dengan segenap lenguh jiwamu
Kunyahlah dengan rakus zikir lewat mulutmu
Runtuhkan segala dosa bersama runtuhnya simbah air matamu

Fajar yang kau lihat esok hari
Menyingsing seiring riuh semesta
Cakrawala menjadi tiang langit dan bumi
Pandanglah dengan matamu

Ya Allah
Ampunkanlah mata kami yang tak mampu melihat keagunganmu
Ampunkanlah mulut kami yang tak sanggup menelan zikir
Ampunkanlah hati kami yang tak dapat merasakan kebenaran
Ampunkanlah tangan kami yang tak bisa menggenggam amanah
Ampunkanlah hidung dan kening kami yang tak pernah merasakan indahnya sujud ditengah malam sunyi

Ampunkanlah ya Allah....





Sang dewa petaka

Ingin kuajak kalian berjalan ke plosok plosok desa
Saksikan kenyataan yang telah lama kalin dengar hanya lewat cerita
Lihatlah bagaimana mereka yang terkucil berselimut debu
Terkubur diatas segala penderitaan
Pernahkah kalian fikirkan nasib mereka yang terlunta lunta?

Oh
Ternyata bangsa ini sudah tak waras lagi
Rakyatnyapun jadi ikut gila bersama para pemimpinnya yang memang sedang terjangkit penyakit jiwa Pendidikan tak pernah kalian fikirkan
Jaminan kesehatan malah menjadi mimpi abadi
Bahkan kemiskinan menjadi catatan pasti dalam sejarah yang panjang disetiap pergantian generasi

Mereka yang lapar tak bisa berbuat apa-apa
Sementara kalian malah sibuk membabi buta dengan mengeruk harta Negara
Kalian korupsi
Kalian curi uang rakyat
Kalian rampas hak merka tanpa batas

Wahai sang dewa petaka
Lelah tangan para seniman mengetuk pintu
Sampai serak ribuan mahasiswa berorasi didepan istana
Tapi itu tak sedikitpun menyadarkan kalian yang gila harta

Kini, para ulama hanya bisa mengelus dada dan geleng-gelengkan kepala
Sedang rakyat tetap setia menunggu satu perubahan yang benar-banar nyata

Panji-panji demokrasi

Dibawah kesadaran, dibawah tiang sebuah harapan
Tiupan angin berhembus
Membawa seberkas alunan nada fatamorgana
Panji-panji demokrasi berkibar di angkasa
Bersorak soraya, berjingkrak dan menari-nari diiringi semaraknya perubahan makna

Panji-panji demokrasi adalah bendera tanpa tiang
Yang dikibarkan sebagai topeng pembawa kewibawaan
Mulut yang berteriak mangumbar janji-janji kepalsuan
Hatinya busuk seperti bangkai-bangkai Anjing yang mati kelaparan
Memutar haluan, menyalahi kejadian, dan menghisap kesejahteraan

Sementara disini
Teriak ketidak puasan rakyat seolah membakar dunia
Menuntut dunia yang berpura-pura adil
Padahal kejam dan menyiksa
Panji-panji demokrasi, panji-panji kejayaan
Panji-panji yang dipasang lebel tabu
Dijunjung tinggi kemudian diinjak-injak
Lalu dibungkus rapi dengan kain kafan yang bulukan

Konstitusi adalah omong kosong
Hanya kata sesumbar untuk menipu rakyat yang tak tau apa-apa
Menipu rakyat yang selama ini meringkuk dalam penderitaan
Struktur pemerintahan harus segera dirombak
Diganti dengan pemikiran-pemikiran yang lebih jernih, lebih bersih dan lebih sehat

Kini pancasila harus dijunjung tinggi
Undang-undang bukan sekedar dekorasi
Bukan ladang untuk mancapai kejayaan
Panji-panji demokrasi terbentang diangkasa
Tersaji untuk mereka penikmat janji-janji

Dengarlah,
Panji-panji demokrasi dikibarkan bukan untuk hiasan
Bukan juga sekedar mempertinggi angan-angan
Apalagi sebagai omong kosong tanpa penghayatan
Kini kita kembali pada makna demokrasi yang sesungguhnya
Singkirkan bercak debu yang melekat pada sendi-sendi pemerintahan
Lakukan dengan segenap keberanian
Berontaklah terhadap para penjajah yang berpura-pura menjadi pahlawan

Memetik cahayamu

Ya Allah,
Sungguh tak mampu aku berjalan dalam gelap malam tanpa cahaya
Sungguh tak sanggup aku mencapai tujuan tanpa petunjuk
Setiap langkah yang mungkin bukan arahku
Seperti bimbang tak henti menggoda iman dan islamku
Merasuk meracuni nurani

Ya Allah,
Sungguh lemah hati ini menolak segala tipu daya
Sungguh tak mungkin lagi ku sanggup melawannya
Sementara kezhaliman menggurita dimana-mana
Tak terbayang segala keangkuh terus menghadang
Bertubi-tubi menyerang, menikam, dan menginjak-injak kepalaku

Ya Allah,
Sungguh tanpa kehendakmu
Mata ini terpejam, hati ini tertutup, mulut ini pun bungkam bagai mayat tak bergerak

Ya Allah,
Bukalah mataku, mata hatiku, juga mulutku
Disini, di tempat ini
Sungguh kudamba, kurindu, kunanti, ku cari titian rahmat agung cahayamu

Mata yang enggan melihat

Aku mendengar suara namun tak nampak siapa
Kabut terlalu pekat untuk kudapati dari mana
Udara sepi yang bercampur bau kusta meringkik
Berbaur dengan suara nestapa

Jerit terus mengumandang menggenggam remas otakku
Meleleh nanah bercampur darah yang bergerilya
Ingin kumuntahkan bara dalam jiwa yang tengah hangus
Gosong terbakar oleh kobaran nafsu
Kemudian kusirami dengan gerimis air mata yang deras
Agar sembuh sakitnya
Agar hilang baunya
Agar berhenti tangisnya
Agar melebur suaranya
Agar nampak siapa
Agar kudapati dari mana

16 Maret 2012

Ftrahku

Dibawah langit bertabur bunga kamboja
Diatas bumi aku bersujud gugurkan segala dosa

Didalam pelukan angin yang sejuk,
Sajak-sajak doa kurangkai
Bait-bait puisi ku kumandangkan

Langit terbentang fajar,
Dipeluk bumi merangkul semesta
Mata langit tersenyum
Tertawa lebar
Dan bau-bau manusia kembali kefitrahnya ada di mana-mana

Hari ini kita semua bahagia
Hari ini kita semua tertawa
Wajah-wajah murung nan muram kini terberai sirna

Doa-doa dipanjatkan
Menangis mohon ampunan
Jari-jemari erat dikaitkan
Sambil berpeluk kencang menjaring persaudaraan

Dan di hari ini fitrah kita kembali
Fitrah sebagai manusi yang bersih, suci, dan utuh
Dihadapan Illahi

Selasa, 03 Juli 2012

Api


Ada luka yang perih di hati ini
Daun Sirih kuning layu yang berakar gersang
Tumbuh merambat di atas batu Gamping
Begitulah ibarat hati ini yang ditumbuhi oleh bunga Cinta

Wahai para dewa,
Mega merah di atas kepala dan gumpalan awan hitam berkabut
Adalah lambang cinta yang berkobar membara
Mencengkram bumi yang nampak senja
Saksikanlah cintaku yang sedalam Muhammad,
Setulus Yesus, dan seindah Budha

Meski kini langit berkalang kabut
Badai salju dan lahar dingin menenggelam-bekukan Manusia
Namun semakin biru saja engkau wahai Api
Api cinta
Api rindu
Api kasih
Api bukan sembarang api

Meski gelombang Tsunami membawa lahar panas
Berkobar-kobar membakar gosong Manusia
Namun semakin redup saja engkau wahai Api
Api benci
Api dendam
Api dengki
Api pembakar nurani