Ingin kuajak kalian berjalan ke plosok plosok desa
Saksikan kenyataan yang telah lama kalin dengar hanya lewat cerita
Lihatlah bagaimana mereka yang terkucil berselimut debu
Terkubur diatas segala penderitaan
Pernahkah kalian fikirkan nasib mereka yang terlunta lunta?
Oh
Ternyata bangsa ini sudah tak waras lagi
Rakyatnyapun jadi ikut gila bersama para pemimpinnya yang memang sedang terjangkit penyakit jiwa
Pendidikan tak pernah kalian fikirkan
Jaminan kesehatan malah menjadi mimpi abadi
Bahkan kemiskinan menjadi catatan pasti dalam sejarah yang panjang disetiap pergantian generasi
Mereka yang lapar tak bisa berbuat apa-apa
Sementara kalian malah sibuk membabi buta dengan mengeruk harta Negara
Kalian korupsi
Kalian curi uang rakyat
Kalian rampas hak merka tanpa batas
Wahai sang dewa petaka
Lelah tangan para seniman mengetuk pintu
Sampai serak ribuan mahasiswa berorasi didepan istana
Tapi itu tak sedikitpun menyadarkan kalian yang gila harta
Kini, para ulama hanya bisa mengelus dada dan geleng-gelengkan kepala
Sedang rakyat tetap setia menunggu satu perubahan yang benar-banar nyata
Sabtu, 07 Juli 2012
Panji-panji demokrasi
Dibawah kesadaran, dibawah tiang sebuah harapan
Tiupan angin berhembus
Membawa seberkas alunan nada fatamorgana
Panji-panji demokrasi berkibar di angkasa
Bersorak soraya, berjingkrak dan menari-nari diiringi semaraknya perubahan makna
Panji-panji demokrasi adalah bendera tanpa tiang
Yang dikibarkan sebagai topeng pembawa kewibawaan
Mulut yang berteriak mangumbar janji-janji kepalsuan
Hatinya busuk seperti bangkai-bangkai Anjing yang mati kelaparan
Memutar haluan, menyalahi kejadian, dan menghisap kesejahteraan
Sementara disini
Teriak ketidak puasan rakyat seolah membakar dunia
Menuntut dunia yang berpura-pura adil
Padahal kejam dan menyiksa
Panji-panji demokrasi, panji-panji kejayaan
Panji-panji yang dipasang lebel tabu
Dijunjung tinggi kemudian diinjak-injak
Lalu dibungkus rapi dengan kain kafan yang bulukan
Konstitusi adalah omong kosong
Hanya kata sesumbar untuk menipu rakyat yang tak tau apa-apa
Menipu rakyat yang selama ini meringkuk dalam penderitaan
Struktur pemerintahan harus segera dirombak
Diganti dengan pemikiran-pemikiran yang lebih jernih, lebih bersih dan lebih sehat
Kini pancasila harus dijunjung tinggi
Undang-undang bukan sekedar dekorasi
Bukan ladang untuk mancapai kejayaan
Panji-panji demokrasi terbentang diangkasa
Tersaji untuk mereka penikmat janji-janji
Dengarlah,
Panji-panji demokrasi dikibarkan bukan untuk hiasan
Bukan juga sekedar mempertinggi angan-angan
Apalagi sebagai omong kosong tanpa penghayatan
Kini kita kembali pada makna demokrasi yang sesungguhnya
Singkirkan bercak debu yang melekat pada sendi-sendi pemerintahan
Lakukan dengan segenap keberanian
Berontaklah terhadap para penjajah yang berpura-pura menjadi pahlawan
Tiupan angin berhembus
Membawa seberkas alunan nada fatamorgana
Panji-panji demokrasi berkibar di angkasa
Bersorak soraya, berjingkrak dan menari-nari diiringi semaraknya perubahan makna
Panji-panji demokrasi adalah bendera tanpa tiang
Yang dikibarkan sebagai topeng pembawa kewibawaan
Mulut yang berteriak mangumbar janji-janji kepalsuan
Hatinya busuk seperti bangkai-bangkai Anjing yang mati kelaparan
Memutar haluan, menyalahi kejadian, dan menghisap kesejahteraan
Sementara disini
Teriak ketidak puasan rakyat seolah membakar dunia
Menuntut dunia yang berpura-pura adil
Padahal kejam dan menyiksa
Panji-panji demokrasi, panji-panji kejayaan
Panji-panji yang dipasang lebel tabu
Dijunjung tinggi kemudian diinjak-injak
Lalu dibungkus rapi dengan kain kafan yang bulukan
Konstitusi adalah omong kosong
Hanya kata sesumbar untuk menipu rakyat yang tak tau apa-apa
Menipu rakyat yang selama ini meringkuk dalam penderitaan
Struktur pemerintahan harus segera dirombak
Diganti dengan pemikiran-pemikiran yang lebih jernih, lebih bersih dan lebih sehat
Kini pancasila harus dijunjung tinggi
Undang-undang bukan sekedar dekorasi
Bukan ladang untuk mancapai kejayaan
Panji-panji demokrasi terbentang diangkasa
Tersaji untuk mereka penikmat janji-janji
Dengarlah,
Panji-panji demokrasi dikibarkan bukan untuk hiasan
Bukan juga sekedar mempertinggi angan-angan
Apalagi sebagai omong kosong tanpa penghayatan
Kini kita kembali pada makna demokrasi yang sesungguhnya
Singkirkan bercak debu yang melekat pada sendi-sendi pemerintahan
Lakukan dengan segenap keberanian
Berontaklah terhadap para penjajah yang berpura-pura menjadi pahlawan
Memetik cahayamu
Ya Allah,
Sungguh tak mampu aku berjalan dalam gelap malam tanpa cahaya
Sungguh tak sanggup aku mencapai tujuan tanpa petunjuk
Setiap langkah yang mungkin bukan arahku
Seperti bimbang tak henti menggoda iman dan islamku
Merasuk meracuni nurani
Ya Allah,
Sungguh lemah hati ini menolak segala tipu daya
Sungguh tak mungkin lagi ku sanggup melawannya
Sementara kezhaliman menggurita dimana-mana
Tak terbayang segala keangkuh terus menghadang
Bertubi-tubi menyerang, menikam, dan menginjak-injak kepalaku
Ya Allah,
Sungguh tanpa kehendakmu
Mata ini terpejam, hati ini tertutup, mulut ini pun bungkam bagai mayat tak bergerak
Ya Allah,
Bukalah mataku, mata hatiku, juga mulutku
Disini, di tempat ini
Sungguh kudamba, kurindu, kunanti, ku cari titian rahmat agung cahayamu
Sungguh tak mampu aku berjalan dalam gelap malam tanpa cahaya
Sungguh tak sanggup aku mencapai tujuan tanpa petunjuk
Setiap langkah yang mungkin bukan arahku
Seperti bimbang tak henti menggoda iman dan islamku
Merasuk meracuni nurani
Ya Allah,
Sungguh lemah hati ini menolak segala tipu daya
Sungguh tak mungkin lagi ku sanggup melawannya
Sementara kezhaliman menggurita dimana-mana
Tak terbayang segala keangkuh terus menghadang
Bertubi-tubi menyerang, menikam, dan menginjak-injak kepalaku
Ya Allah,
Sungguh tanpa kehendakmu
Mata ini terpejam, hati ini tertutup, mulut ini pun bungkam bagai mayat tak bergerak
Ya Allah,
Bukalah mataku, mata hatiku, juga mulutku
Disini, di tempat ini
Sungguh kudamba, kurindu, kunanti, ku cari titian rahmat agung cahayamu
Mata yang enggan melihat
Aku mendengar suara namun tak nampak siapa
Kabut terlalu pekat untuk kudapati dari mana
Udara sepi yang bercampur bau kusta meringkik
Berbaur dengan suara nestapa
Jerit terus mengumandang menggenggam remas otakku
Meleleh nanah bercampur darah yang bergerilya
Ingin kumuntahkan bara dalam jiwa yang tengah hangus
Gosong terbakar oleh kobaran nafsu
Kemudian kusirami dengan gerimis air mata yang deras
Agar sembuh sakitnya
Agar hilang baunya
Agar berhenti tangisnya
Agar melebur suaranya
Agar nampak siapa
Agar kudapati dari mana
16 Maret 2012
Kabut terlalu pekat untuk kudapati dari mana
Udara sepi yang bercampur bau kusta meringkik
Berbaur dengan suara nestapa
Jerit terus mengumandang menggenggam remas otakku
Meleleh nanah bercampur darah yang bergerilya
Ingin kumuntahkan bara dalam jiwa yang tengah hangus
Gosong terbakar oleh kobaran nafsu
Kemudian kusirami dengan gerimis air mata yang deras
Agar sembuh sakitnya
Agar hilang baunya
Agar berhenti tangisnya
Agar melebur suaranya
Agar nampak siapa
Agar kudapati dari mana
16 Maret 2012
Ftrahku
Dibawah langit bertabur bunga kamboja
Diatas bumi aku bersujud gugurkan segala dosa
Didalam pelukan angin yang sejuk,
Sajak-sajak doa kurangkai
Bait-bait puisi ku kumandangkan
Langit terbentang fajar,
Dipeluk bumi merangkul semesta
Mata langit tersenyum
Tertawa lebar
Dan bau-bau manusia kembali kefitrahnya ada di mana-mana
Hari ini kita semua bahagia
Hari ini kita semua tertawa
Wajah-wajah murung nan muram kini terberai sirna
Doa-doa dipanjatkan
Menangis mohon ampunan
Jari-jemari erat dikaitkan
Sambil berpeluk kencang menjaring persaudaraan
Dan di hari ini fitrah kita kembali
Fitrah sebagai manusi yang bersih, suci, dan utuh
Dihadapan Illahi
Diatas bumi aku bersujud gugurkan segala dosa
Didalam pelukan angin yang sejuk,
Sajak-sajak doa kurangkai
Bait-bait puisi ku kumandangkan
Langit terbentang fajar,
Dipeluk bumi merangkul semesta
Mata langit tersenyum
Tertawa lebar
Dan bau-bau manusia kembali kefitrahnya ada di mana-mana
Hari ini kita semua bahagia
Hari ini kita semua tertawa
Wajah-wajah murung nan muram kini terberai sirna
Doa-doa dipanjatkan
Menangis mohon ampunan
Jari-jemari erat dikaitkan
Sambil berpeluk kencang menjaring persaudaraan
Dan di hari ini fitrah kita kembali
Fitrah sebagai manusi yang bersih, suci, dan utuh
Dihadapan Illahi
Selasa, 03 Juli 2012
Api
Ada luka yang perih di hati ini
Daun
Sirih kuning layu yang berakar gersang
Tumbuh
merambat di atas batu Gamping
Begitulah
ibarat hati ini yang ditumbuhi oleh bunga Cinta
Wahai
para dewa,
Mega
merah di atas kepala dan gumpalan awan hitam berkabut
Adalah
lambang cinta yang berkobar membara
Mencengkram
bumi yang nampak senja
Saksikanlah
cintaku yang sedalam Muhammad,
Setulus
Yesus, dan seindah Budha
Meski
kini langit berkalang kabut
Badai
salju dan lahar dingin menenggelam-bekukan Manusia
Namun
semakin biru saja engkau wahai Api
Api
cinta
Api
rindu
Api
kasih
Api
bukan sembarang api
Meski
gelombang Tsunami membawa lahar panas
Berkobar-kobar
membakar gosong Manusia
Namun
semakin redup saja engkau wahai Api
Api
benci
Api
dendam
Api
dengki
Api
pembakar nurani
Sabtu, 28 Januari 2012
Resah Para Pujangga
Aku bersamadi dalam tafakur yang suci
Sederet peristiwa yang tak pernah usai
Kutatap tanpa tedeng aling-aling yang menghambat pandangku
Cinta bergelora bergetar dalam dada
Nafsu bergejolak mengoyak-oyak fikiranku
Resah...
Ow Bapak,
Ow Willybrordus,
Ow Hamid Jabar,
Ow Buya Hamka,
Masihkah engkau merasa resah di alam sana?
16 Januari 2011
Sederet peristiwa yang tak pernah usai
Kutatap tanpa tedeng aling-aling yang menghambat pandangku
Cinta bergelora bergetar dalam dada
Nafsu bergejolak mengoyak-oyak fikiranku
Resah...
Ow Bapak,
Ow Willybrordus,
Ow Hamid Jabar,
Ow Buya Hamka,
Masihkah engkau merasa resah di alam sana?
16 Januari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)